Minggu, Maret 11, 2012

DUNIA INI, NAK


Dunia kita, Nak.   Selalu saja ditumbuhi alang-alang yang melintang.  Kaki-kaki kita timpang, tertelikung terjegal, nyaris tumbang.  Tangan-tangan kita menggapai berbagai macam pegangan, menyerabut sementara suara kita tenggelam hilang. 

Lalu ibu macam apa aku ini?   Dengan penuh sadar membiarkanmu bersandar pada akar-akar lapuk bermulut busuk sementara aku sendiri berkeliaran mengejar mimpi dan angan-angan yang juga busuk.  Mimpi-mimpi itu telah kutanamkan ke dalam kepalamu sementara benakmu sendiri dipenuhi janji-janji yang tidak pernah aku tepati.

Barangkali aku adalah ibu paling durjana , Nak.  Selalu saja membawamu menapaki jurang-jurang demi jurang yang semakin hari semakin dalam, semakin terjal.  Namun hidup juga tidak pernah memiliki kompromi terhadapku, andai engkau tahu.   Engkau pun melihat dengan mata kepala kecilmu sendiri, bahwa aku pernah terjebak ke dalam nyeri.  Meski benakmu mungkin tak lekas mengerti, untuk apa aku terus berkubang dalam pedih, tapi sudah kukatakan, bahwa hidup begitu kelam ketika ia berkelindan di kakiku.

Kadang aku ingin hilang, Nak.  Agar kelak kau mengenangku hanya sebagai nama di nisan, bukan sebagai sosok yang membuatmu terlantar; ibu yang membiarkanmu terpapar.  Namun engkau lah muara dari segala keinginan.  Engkau lah pusara selaksa harapan.  Namamu, adalah doa yang tak pernah bosan kusuarakan.  Hingga suaraku tinggal getar.
Mungkin ini sudah saatnya aku berhenti mengejar tepi-tepi mimpi.  Mimpi yang tak pernah terbeli.  Mimpi yang hanya bisa membuatmu tenggelam dalam keegoisanku sendiri.  Mimpi menjadi iblis, bergelayut dan menjerat kaki.

Mari, Nak.  Kembali ke pelukanku.  Tidak ada dunia yang harus kita taklukkan.  Aku hanya ingin kita berpegangan tangan, saling berpelukan.  Agar nanti, wajahku tak hanya jadi gambar dalam foto yang tenggelam dalam kenang.

Ada banyak doa yang mesti kita panjatkan.  

SINGLE MOTHER DOUBLE FIGHTER


Judul buku      : Single Mother Double Fighter
Genre              : Non-Fiksi Komedi/parenting
Penulis             : Skylashtar Maryam
Penerbit           : Gradien Mediatama, Feb 2012
Penyunting      : fLo
Tebal               : 208 halaman, 13 x 19 cm
ISBN                 : 978-602-208-048-0
Harga              : 34 ribu

Salwa  : Mencuri itu dosa enggak, Bun?
Gue     : Dosa atuh.
Salwa  : Kalau membunuh?
Gue     : *Ni anak kebanyakan nonton berita kriminal ah.
Dosa atuh, dosanya besar malah.
Salwa  : Kalau membunuhnya enggak sengaja?
Gue     : Emang ada?
Salwa  : Ada, di berita tadi siang.
Gue     : *Tuh kan.  Kayaknya…Eh enggak tahu deng.  Ntar Bunda tanyain ama Bu Ustazah dulu deh.
Salwa  : Kalau bunuh diri?
Gue     : Wah, kalau yang ini mah jelas-jelas dosa *gue yakin banget dong.
Salwa  : Kalau bunuh dirinya enggak sengaja?
Gue     : *Lu beneran mau tahu atau Cuma ngetes gue, Non?
*
Apa yang akan kamu katakan kalau anak kamu bertanya soal jenis kelamin Tuhan dan malaikat?  Apa yang akan kamu katakan kalau anak kamu mendesak ingin tahu tentang bagaimana membuat anak?  Bagaimana perasaan kamu kalau anak kamu, yang belum lama meninggalkan masa balitanya memiliki hobi untuk menjatuhkan rasa percaya dirimu sebagai orang dewasa?  Bagaimana perasaan kamu kalau anak kamu, yang ternyata sudah bisa membaca tanpa sepengetahuanmu itu pandai sekali membuatmu merasa bersalah karena kamu sibuk bekerja?  Buku ini bisa menceritakannya.

Anak-anak jaman sekarang adalah anak-anak yang dibesarkan oleh teknologi, televisi, lingkungan yang semakin hedonis dan permisif.  Bagi seorang ibu bekerja, single parentpula, penulis kadang merasa kesulitan ketika harus menghadapi putrinya yang kritis, narsis, dan sinis.  Itu sebabnya buku ini terlahir; untuk menumpahkan rasa galau daripada penulis keseringan ngemil kaos kaki.

Penulis buku ini sebetulnya terkenal (ehem) dengan perempuan penyuka benda tajam terbukti dengan terbitnya cerpen-cerpen yang beraura kelam (ehem lagi), tapi siapa sangka jika buku ini tidak menyimpan satu ‘pisau’ pun.  Sebaliknya, ditulis dengan selera humor yang pas, segar, menghibur, namun tidak segan-segan menawarkan hikmah; bahwa anak-anak adalah hal paling indah.

Jangan tertipu dengan label ‘parenting’ yang tertera di atas, karena buku ini cocok dibaca oleh segala usia.  Tidak gembar-gembor sebagai buku terlucu sepanjang masa, tapi cukup lah  untuk membuatmu tertawa atas ironi, parodi, interaksi antara ibu dan sang putri.
**

Sabtu, Februari 11, 2012

BUKU TUNGGAL PERTAMAKU (PRE-PROMOTION)

Coming soon in the midle of Feb 2012

Single Mother Double Fighter




Penulis : Skylashtar Maryam




Penerbit : Gradien Mediatama


Buku ini rencana akan terbit di pertengahan bulan Februari 2012. Can you imagine?  This is my first book. I 

mean, really my book. Dengan satu orang nama penulis di sampul buku; hanya namaku. 
*


PETERNAK BONEKA



For your information, Salwa sudah punya boneka dari berbagai ras dan spesies, baik yang boneka manusia ataupun bukan. Jadi kalau semua boneka dia dikumpulkan, bisa dipastikan bisa menyaingi lengkapnya Kebun Binatang Bandung. 

Di supermarket waktu belanja bulanan.
Salwa : (Terpaku di deretan rak mainan anak-anak)
Gue : Barbie? Nggak lah yau!
Salwa : (Mengerling) 
Gue : Yuk, ah. Ngapain lama-lama di sini coba?
Salwa : Boneka ini bagus ya, Bun? (Menimang-nimang boneka panda segede panda aslinya)
Gue : (Mengerling sebal) Kamu udah punya dua boneka panda.
Salwa : Kalau yang ini? 
Gue : Kamu juga udah punya boneka singa.
Salwa : Yang ini?
Gue : Kelinci? Udah ada tiga apa lima ya di rumah?
Salwa : (Mencari-cari di deretan rak) Ini?
Gue : Idih, masa bebek lagi,mau bikin peternakan? (Gue manyun)
Salwa : (Ngubek-ngubek rak lagi) 
Gue : (Kesel campur kasihan) Non!
Salwa : Heuh? (Kesel juga sih kayaknya)

Gue : Intinya adalah, kamu udah punya semua boneka hewan itu. Untuk apa beli lagi? Menuh-menuhin kamar aja. Lagian, kalau pun Bunda punya uang, mending Bunda tabung kek atau beliin beras. Daripada buat beliin boneka kamu terus.
Salwa : Ada nggak ya boneka beras?
Gue : (Ngeloyor pergi daripada kena darah tinggi)
*


Jumat, Februari 10, 2012

TIPS-TIPS MEMENANGKAN LOMBA PENULISAN


Sebuah lomba penulisan, baik itu yang diadakan oleh panitia-panitia besar seperti Republika, Rohto, Femina, DKJ, maupun yang diadakan oleh perorangan selalu saja diminati para penulis.  Ada berbagai macam motivasi untuk mengikuti lomba. Tapi kita tidak akan membahas itu.

Dari pengalaman lolos menjadi kontributor beberapa lomba dan pernah jadi juara utama di sebuah lomba penulisan (ehem), mari aku bagi-bagi tips.  Semoga berguna^^

1. KESESUAIAN TEMA
Kalaupun hasil tulisan kamu sekaliber John Grisham atau J.K Rawling, kalau temanya tidak matching, pasti bakalan terkena diskualifikasi. Cara untuk menyesuaikan tema adalah dengan membaca peraturan lomba sebaik-baiknya. Cermati. Kalau tema itu bukan keahlian kamu tapi kamu nekad ingin ikut, riset dulu. Akhir-akhir ini banyak sekali lomba yang bertema pengalaman pribadi atau pengalaman orang-orang sekitar. Ini non fiksi, gali lagi memori di otak kamu atau wawancarai orang-orang di sekitar. Kalau tema terlalu jauh dari jangakauan, lebih baik usah ikut karena selain wasting time, kemungkinan besar kamu akan mempermalukan diri kamu sendiri.

2. JUMLAH HALAMAN ATAU KARAKTER
Biasanya diberikan skala. Misal: antara 5-6 halaman. Atau min 3000 karakter maksimal 5000 karakter, dan sebagainya. Kamu HARUS memenuhi syarat ini karena jarang sekali panitia lomba yang mau berbaik hati memberikan dispensasi. Lebih bagus ambil range maksimal. Itu juga kalau tulisan kamu emang bisa sampai segitu. Kalau sudah memenuhi kuota minimal dan tulisan sudah mentok, tidak usah dipanjang-panjangkan deh. Tulisan yang terlalu memuai akan jadi membosankan. Ada yang bertanya bagaimana cara menghitung karakter tulisan, apakah harus dihitung satu persatu? Ouwh, tentu tidak, saudara. Di kiri bawah layar word ada toolbars yang menunjukkan jumlah halaman, jumlah karakter (dengan spasi atau tidak), jumlah huruf, dll. Klik dua kali di situ untuk melihat detailnya.

3. MEMILIH JUDUL

Ini lomba, ratusan bahkan ribuan naskah masuk ke meja panitia. First impression is an important thing. Percaya atau tidak, ada juri lomba yang tidak selesai membaca naskah karena sudah ilfil dengan judulnya. Jadi gimana tulisan kamu yang keren itu akan memenangkan perlombaan kalau jurinya saja males baca? 
Judul boleh ditulis dalam bahasa apa saja asalkan sesuai dengan tema yang kamu ambil, kecuali kalau lomba yang kamu ikuti mencantumkan syarat tentang judul. Kalau memakai Bahasa Inggris, memang tidak membutuhkan terjemahan atau catatan kaki. Tapi kalau kamu menggunakan bahasa lain yang tidak semua orang tahu, pakailah catatan kaki. 
Saranku sih, hindari penggunaan judul dalam bahasa lain kalau tidak urgent-urgent banget. 
Jangan kira kalau judul yang njelimet dan berkesan intelek itu bagus. Bagus sih, kalau untuk buku teks kuliah atau apa. Tapi kalau untuk cerita, mending nggak usah. Judul ditulis rata tengah, memakai huruf kapital, ukuran lebih besar, boleh ditebalkan, tapi jangan dimiringkan atau memakai garis bawah, tidak memakai tanda titik. Dalam puisi atau cerita-cerita kontemporer, cara penulisan judul bisa saja dibedakan seusai dengan idealisme penulis. Untuk naskah lomba, ikuti saja aturan yang sudah umum.


Berikut adalah contoh judul yang aku buat dan ternyata bisa 'membujuk' hati para juri:
  • GOSH! DIG IT OUT! (Lolos = INSPIRASI MENULIS)
  • NIKAH PISAU (Lolos = PERINDU SAMARA)
  • PARA PENGUSUNG KERANDA (Lolos = PROYEK MENULIS ANAK BANGSA)
  • THE WORST DRIVER IN THE WORLD (Lolos = terbit di Leutika Publisher)
  • SURVIVAL JOURNEY (Lolos = Memenangkan lomba di Penerbit Bukune)
  • FLYOVER RHAPSODY (Lolos = PERNIKAHAN DINI)
  • OH MY GOSH! (Lolos = ANTOLOGI SETAN DODOL)
Kalau dilihat-lihat, 80% judul memakai bahasa Inggris. Kenapa? Biar keren aja :P

4. TEKNIK PENULISAN
Seseorang yang ingin menjadi penulis profesional wajib mengetahui hal ini. Teknis penulisan (EYD, dll) akan menunjang apakah naskah kamu lolos atau tidak. Ide dan cerita sehebat apapun, kalau ditulis dengan ejaan yang berantakan, maka tidak akan bisa lolos dalam penjurian. 

KATA DEPAN DAN IMBUHAN
Begini, misalnya dalam penulisan kata depan dan imbuhan di- atau di-kan. Banyak penulis yang cuek beibeh. Kata depan itu dipisah dari kata dasar, misal 'di_sebuah' atau 'ke_rumah sakit'. Bukan 'disebuah' atau 'kerumah sakit'. Penulisan imbuhan ditulis bersatu dengan kata dasar, misal: 'diberi', 'dipukul'. Hati-hati dalam penulisan imbuhan 'di_kan' atau 'ke-an', jika kata dasar berakhiran huruf 'k', maka huruf itu ditulis dobel. Misal: 'disibukkan'.

TANDA BACA
Selain penulisan imbuhan dan kata depan, penempatan tanda baca juga tak kalah penting. Hindari menggunakan tanda tanya atau tanda seru terlalu banyak, cukup satu saja, bahkan jika kamu ingin menunjukkan bahwa pertanyaan itu sungguh besar. Tidak, satu tanda tanya saja sudah cukup, terima kasih. Kalau masih ingin menempatkan tanda baca berlebihan, sebaiknya di diarry saja, jangan di naskah lomba. Karena yang aku baca dari penulis yang suka menghamburkan tanda baca adalah ia yang tidak yakin pada ceritanya sendiri. Apalagi kalau itu tanda seru.

DAN LAIN-LAIN
EYD itu banyak jenisnya. Bukan hanya tanda baca dan kata depan. Ada singkatan, akronim, penulisan nama, kata sapaan, penulisan tempat, bilangan, dan lain-lain. Kalau kamu berniat menjadi penulis profesional, beli buku panduan EYD yang harganya murah meriah itu. Atau pakai situs-situs online juga boleh.

5. DEADLINE
Aku tidak menyarankan kamu untuk mengirim naskah di hari terakhir. Aku juga sering begitu, tapi karena naskahku bagus ya lolos juga. Hahahaa... Naskah yang dikirim pada hari deadline memiliki banyak kemungkinan berbahaya. Misal: kuota e-mail panitia penuh, dan naskah kamu terkatung-katung di dunia maya lalu mendarat di keesokan hari yang artinya telat sampai: diskualifikasi. Kalau lewat pos atau jasa kurir, pastikan kamu mengirimkannya maksimal satu minggu sebelum deadline karena pengiriman naskah lewat 'darat' seperti ini juga 'berbahaya'. Maksudnya, kemungkinan untuk telat sampai berbanding 50-50.
Pantau terus pergerakan informasi lomba, jangan sampai ada deadline yang dimajukan atau diundur dan kamu tidak tahu.
Kalau kamu bukan penulis sekaliber aku yang bisa nulis maksimal bahkan di waktu yang minimal, siapkan naskah dari jauh-jauh hari (Maaf kalau  jadi narsis begini).

6. KARAKTERISTIK JURI
Yang namanya lomba, tidak ada objektivitas. Semuanya subjektif. Walaupun juri sudah diberi catatan oleh panitia apa-apa saja yang harus dinilai, tetap saja juri mah sok mawa kareup sorangan (cari terjemahan kalimat barusan di kamus bahasa Sunda).
Kalau kamu tahu jurinya, baca tulisan-tulisannya, cari tahu tulisan seperti apa yang dia suka. Lalu tuliskanlah naskah kamu dengan taste yang sesuai. Lalu bagaimana kalau jurinya lebih dari satu orang dengan karakter penulisan yang berbeda-beda? Ambil titik tengah, atau campurkan semuanya. Teknik pengolahan kamu diuji. Enjoy saja, jangan terbebani. Tapi juga jangan lantas muncul ego idealisme  'tulisan gue ya kayak gini, persetan dengan selera juri'. Kalau kamu berpikir seperti itu, ya jangan ikut lomba dudul! Posting aja tulisan kamu di FB atau di blog. Aman. Daripada menghabiskan waktu dan sel otak untuk sesuatu yang sia-sia dan malu-maluin.

Untuk lomba puisi, memang dicari para penulis yang 'berkarakter' entah apa itu artinya. Tapi kalau kamu masih plintat-plintut menulis dalam berbagai gaya, lebih baik ikuti saja selera juri.
Tidak bisa menemukan selera juri? Ya itu derita lo. Hahaha... bercanda. Maka berkonsultasilah pada penulis yang lebih senior atau yang tahu selera juri. Yeah, it is depends on your effort to go forward. Jangan males!

7. EDITING
Naskah yang kamu 'lempar' ke panitia lomba adalah naskah yang harus sudah cantik. Tidak ada salah ketikan, tidak ada kalimat-kalimat yang tidak selesai, dan lain sebagainya. Baca lagi minimal tiga kali untuk memastikan bahwa naskah kamu baik-baik saja. Setelah dirasa puas, baru kirim. Tapi jangan ngedit kelamaan, ntar malah ketinggalan deadline.

8. KONFIRMASI
Setelah naskah kamu selesai, setelah kamu kirim, pastikan kalau kamu menerima notifikasi dari panitia. In case alamat e-mail yang kamu kirim itu salah atau kesalahan teknik lainnya.

Ini hanya hasil pengamatan otakku yang kejang, kalau kamu punya tips yang lebih bagus, silakan praktekan. Selamat berburu lomba dan mengejar deadline ^^

Selasa, Februari 07, 2012

RIGHT SOUNDTRACK CAN RAISE UP YOUR INSPIRATION


Sebuah lagu adalah pematang kenangan yang bisa menstimulasi otak untuk mengingat, mengenang, dan memintal kembali benang-benang cerita yang pernah terlupakan.

Saya terbiasa memilih lagu yang tepat sebelum aku memulai menulis. Untuk apa? Karena dengan begitu, ketika telinga tertutup dari suara-suara dari luar dan hanya diisi oleh nada-nada dari lagu, otak saya  mulai dibanjiri tentang kesan, tentang ingatan, tentang segalanya yang mungkin pernah  saya lupakan.

Lagu juga berguna untuk menciptakan mood menulis.  Lagu yang tepat untuk cerita yang tepat bisa mendongkrak feel sehingga tulisan kita mengalir lancar.  Menulis menggunakan perasaan hasilnya akan berbeda dengan menulis yang hanya menggunakan pikiran. Pokoknya, feelnya dapet deh.


Mungkin tidak semua penulis menggunakan metode seperti ini hanya untuk mencari mood. Tapi saya sendiri memang kadang bergantung pada sebuah lagu untuk menstimulasi perasaan.

Contoh, tulisan saya 'UNTUK KAMU, BE' itu ditemani "CRY'-nya Rihanna. Sampai termehek-mehek waktu nulis itu, dan hasilnya alhamdulillah tidak mengecewakan.

Tulisan saya 'NIKAH PISAU' di dalam buku BINGKAI RINDU SAMARA yang mewarnai kesusastraan Indonesia dengan segala cinta itu ditulis ditemani lagu 'TERUSKANLAH' dan 'MATAHARIKU' dari saudara kembar saya Agnes Monica. And it success tembus sebagai nominator.

Well, karena metode ini tidak bisa saya telaah secara ilmiah, maka hak penemuan ini tidak sempat saya patenkan ^^

Akhir kata, selamat menulis! Semoga catatan ini berguna.

PS: Tolong jangan pilih lagu-lagu yang bisa  memecahkan telinga seperti lagu Kangen Band 
atau semacamnya. *tring


Ilustrasi dipinjam dari: yenxavier.wordpress.com

Sabtu, Februari 04, 2012

MENYIKAPI PUISI


Suatu teks disebut sebagai karya sastra apabila mampu memberikan kepada pembacanya suatu pemahaman baru dan mendalam tentang kompleksitas kehidupan manusia. Teks tersebut harus sanggup menjalin interkomunikasi antara hakikat realitas dan hati sanubari. Harus dapat menampilkan suatu segi dari realitas yang belum seutuhnya diketahui, realitas paling abstrak, yang sanggup membangun kesadaran kontemplatif tentang apa hakikat hidup, kehidupan manusia, dan kemanusiaan.(Tjahjono Widarmanto. Pikiran Rakyat, 6 September 2008)

Puisi sebagai karya sastra paling abstrak. Dengan beberapa bait saja, berbagai realitas kehidupan manusia bisa terwakili. Saya sebut abstrak sebab pengertian atau pemahaman tidak didoktrinkan secara gamblang ke dalam benak seseorang. Ini wilayah aman jika ingin bercerita tentang patah hati lalu mengasosiasikannya dengan sebuah gelas pecah, misalnya. Seorang ekonom akan memahami peristiwa itu dari segi ekonomi. Seorang akuntan akan menghitung kerugian dan memikirkan akan dimasukkan ke pos mana gelas yang pecah sia-sia itu. Seorang ibu rumah tangga bisa saja kesal karena teringat perabotannya di rumah. Itu sebabnya kesan bagus atau tidak sebuah puisi tidak bisa distel seragam dalam benak setiap orang. Persis seperti seni rupa. Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah.

Terlepas dari maksud seorang penulis terhadap puisinya, daya pikir pembacanyalah yang kelak memberikan nilai. Jadi jalinan interkomunikasi antara hakikat dan hati sanubari penyair dengan hakikat hati sanubari pembacanya hanya akan bertemu di satu titik: pengalaman.

‘Memang di musim salju/Tak ada bunga kuncup walau sepucuk/

Tapi di kalbuku; kau setangkai angkuli/Mekar sudah.’

(Kau, Soni Farid Maulana)

Ketika membaca bait di atas, apa yang Anda pikirkan? Apa yang Anda rasakan? Saya yang tak pernah melihat salju akan menerka bahwa bait itu tengah bercerita tentang hati seseorang yang dilanda sepi, dingin melebihi musim hujan. Namun seseorang yang diibaratkan setangkai bunga senantiasa mekar dan menghangatkan.

Mungkin Anda yang pernah ke Perancis atau tahu betul tentangnya akan beranggapan lain. Sebab Anda tahu bahwa bunga angkuli itu kebanyakan tumbuh di Perancis. Sekian banyak orang yang membaca, sekian banyak pengalaman berbeda, maka semakin beragam apresiasi yang tercipta.

Ada orang yang beranggapan bahwa semakin susah dimengerti sebuah puisi, maka semakin baguslah karyanya. Jadi di mana membangun kesadaran kontemplatif tentang apa hakikat hidup diletakkan? Apakah di dalam kerut-merut dahi setiap orang? Ataukah di atas anggukan-anggukan samar nan ragu? Terserah, sebab puisi adalah wilayah abstrak :D. Dan memasukinya berarti tenggelam ke dalam benak abu-abu orang lain. Apa yang Anda punya, itulah yang Anda bawa keluar.
Kontradiktif dengan anggapan di atas, juga ada orang yang menarik kesimpulan bahwa puisi yang bagus adalah puisi yang sekali tusuk. Jleb! Langsung mengena di hati sanubari. Tidak harus bingung-bingung dulu atau gulang-guling mencari kamus. Apakah seperti itu yang dikatakan bagus? Saya benci mengatakan ini, tapi sekali lagi, terserah! Ini puisi, seabstrak-abstraknya, seabsurd-absurnya, seaneh-anehnya, dan senyeleneh-nyelenehnya. Toh semua tujuan penulis pada akhirnya akan dimamah oleh pengalaman dan pemahaman pembacanya.

Jadi bagaimana puisi yang nyastra dan bagus? Apakah yang memakai banyak kata kiasan atau yang langsung pada tujuan? Sungguh, saya tidak berhak dan bahkan tak punya jawabannya. Sebab sebagai penikmat sekaligus penggubah puisi, saya tentu punya pendapat yang sangat subyektif mengenai ini.

Sebuah puisi, digubah dengan tujuan membangun kesadaran maupun tidak. Dikategorikan sebagai sastra ataupun bukan. Tetaplah sebuah puisi yang dalam proses pembuatannya melalui labirin kehidupan penggubahnya. Proses pembuatan itu sendiri sudah digodok di dalam rahim kehidupan manusia. Oleh manusia. Mencerminkan pandangan hidup seorang manusia. Jadi tidak penting apakah itu mendapat predikat sastra atau tidak.

Rabu, Januari 04, 2012

JIKA SAJA TUHAN ADA

              
Ketika saya mengatakan bahwa saya sudah pernah memamah segala rasa sakit yang mungkin ada di dunia, hal itu mungkin saja benar.  Bukannya saya tidak pernah merasa bahagia, tetapi rasa bahagia itu tidak pernah bertahan lama, selalu saja tergerus arus luka demi luka.  Entah kenapa.
                Yang lebih membuat saya gila adalah bahwa orang-orang yang mendatangkan rasa sakit itu bukan orang lain, bukan orang-orang yang tidak atau belum saya kenal melainkan orang-orang yang paling dekat dengan saya; suami, kekasih, ibu, adik, sahabat.  Mereka manusia-manusia yang seharusnya menghantarkan rasa nyaman, rasa aman, melindungi sekaligus tempat berbagi kasih.  Tapi justru, orang-orang ini lah yang sudah menikamkan pisau paling tajam ke dada saya.

                Saya semakin percaya bahwa ketulusan tidak memiliki aliran darah.  Justru orang-orang yang hanya berstatus sebagai teman atau kenalan lah yang paling banyak membantu, menenangkan, memberi doa, dukungan moril bahkan financial bagi saya ketika saya terlantar. 
                Dengan begini, saya tidak tahu lagi harus mempercayai siapa.  Saya tidak tahu harus berlindung kepada siapa.  Tuhan?  Tapi Tuhan adalah konsep utopis bagi saya saat ini.  Sesuatu yang jauh dari jangkauan kecuali doa-doa yang saya rapal. 
                Tapi sekarang bahkan saya tidak tahu harus merapal doa kepada siapa.  Kepada Tuhan yang mana.  Ketika saya meminta pertolongan pun, saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.  Maka saya diharapkan untuk menolong diri saya sendiri dengan tidak mengharapkan satu pun bantuan dari orang lain.  Karena memang tidak akan ada yang mau menolong.