Ketika saya mengatakan bahwa
saya sudah pernah memamah segala rasa sakit yang mungkin ada di dunia, hal itu
mungkin saja benar. Bukannya saya tidak
pernah merasa bahagia, tetapi rasa bahagia itu tidak pernah bertahan lama,
selalu saja tergerus arus luka demi luka.
Entah kenapa.
Yang lebih membuat saya gila
adalah bahwa orang-orang yang mendatangkan rasa sakit itu bukan orang lain,
bukan orang-orang yang tidak atau belum saya kenal melainkan orang-orang yang
paling dekat dengan saya; suami, kekasih, ibu, adik, sahabat. Mereka manusia-manusia yang seharusnya
menghantarkan rasa nyaman, rasa aman, melindungi sekaligus tempat berbagi
kasih. Tapi justru, orang-orang ini lah
yang sudah menikamkan pisau paling tajam ke dada saya.
Saya semakin percaya bahwa ketulusan
tidak memiliki aliran darah. Justru
orang-orang yang hanya berstatus sebagai teman atau kenalan lah yang paling
banyak membantu, menenangkan, memberi doa, dukungan moril bahkan financial bagi
saya ketika saya terlantar.
Dengan begini, saya tidak tahu
lagi harus mempercayai siapa. Saya tidak
tahu harus berlindung kepada siapa.
Tuhan? Tapi Tuhan adalah konsep
utopis bagi saya saat ini. Sesuatu yang
jauh dari jangkauan kecuali doa-doa yang saya rapal.
Tapi sekarang bahkan saya tidak
tahu harus merapal doa kepada siapa. Kepada
Tuhan yang mana. Ketika saya meminta
pertolongan pun, saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Maka saya diharapkan untuk menolong diri saya
sendiri dengan tidak mengharapkan satu pun bantuan dari orang lain. Karena memang tidak akan ada yang mau
menolong.

0 komentar:
Poskan Komentar
wrtite everthing that stuck in your mind.