/1/
Kapalku selalu berlayar
di samudera kata-kata dengan aku sebagai nahkoda yang rakus, tapi engkau selalu
saja menyediakan ruang di antara celah pelabuhan dadamu; bersiap menerima,
bersiap memafkan. Tiang-tiang arogansi
terpancang di ubun-ubunku, yang hanya luruh tika hari lebaran, pun tak pernah
menjadikanmu pisau. Aku kerap hengkang,
selalu hilang. Tapi engkau selalu ada,
bibirmu merapal doa demi doa.
/2/
Kapalku ini, Ibu. Menempuh laut yang jauh, tapi ingin kembali
bersimpuh. Di dadamu, di matamu, di
kakimu. Sebab selama aku mereguk asin asam
air laut, tak pernah sekalipun dapat kubalas anyir air susu yang mengalir di
darahku. Mesti kubalas dengan apa,
Ibu? Sedangkan tak sekalipun engkau
meminta bayaran kecuali –sekali lagi- doa demi doa yang engkau eja. Selalu.
Untukku.
/3/
Suatu hari nanti,
Ibu. Engkau akan menjadi satu-satunya
pelabuhan tempat aku kembali dan mengabdi.
Hingga kata pergi yang seringkali aku ucapkan di pintu geladak tak akan
lagi jadi momok yang begitu engkau takutkan.
Pulang adalah satu-satunya kata yang akan engkau dengar, yang akan aku hantar. Tapi mungkin, tidak sekarang.
Sebab kapalku kini
masih tak ingat jalan.
Bandung, 22 Desember
2011

0 komentar:
Poskan Komentar
wrtite everthing that stuck in your mind.